Jakarta

Search Box

Translate to:

Pages

Categories

Archives

Meta

 

Banyak organisasi sering gagal mengeksekusi strateginya. Mengapa demikian? Hasil research Balance Scorecard Collaboration (BSC Col) menemukan bahwa faktor utama penyebabnya adalah masalah keterkaitan (link) dari eksekusi strategi dengan tujuan perusahaan maupun kinerja perusahaan secara keseluruhan. Adapun hasil risetnya adalah :

    - 67% dari organisasi HR dan IT tidak align dengan strategi;

    - 85% dari tim eksekutif perusahaan kurang dari satu jam per bulan untuk

      mendiskusikan strategi;

    - 60% anggaran perusahaan tidak link dengan strategi;

    - 70% dari kompensasi insentif para middle manager tidak dikaitkan dengan strategi

Oleh karena itu banyak organisasi atau perusahaan membentuk satu bagian dalam organisasi yang disebut Office of Strategy Management (OSM) yang membantu melakukan alignment antara management process dengan strategi. Dengan adanya OSM, organisasi atau perusahaan akan memiliki seorang pada level eksekutif yang fokus pada lintas-fungsi proses bisnis yang dibutuhkan untuk mengeksekusi strategi, mempertahankan benefit, membuat eksekusi strategi yang permanen, dan mempertahankan kompetensi dalam organisasi. Organisasi yang mempunyai unit kerja OSM ini antara lain adalah Chrysler, US Army, Crown Castle dan Canadian Blood Services.


  Peran Office of Strategy Management


Peran Office of strategy Management berkaitan dengan sembilan proses eksekusi strategy yaitu:

1. Scorecard management
Mendesain dan melaporkan pengukuran Balance Scorecard.

2. Organization Alignment
Memastikan seluruh unit bisnis dan support align dengan strategi.

3. Strategy Reviews
Membuat agenda meeting strategy review dan pembelajaran (learning).

4. Strategic Planning
Membantu CEO dan tim eksekutif dalam formulasi dan update strategi.

5. Strategy Communication
Mengkomunikasikan dan mengajarkan strategi kepada karyawan.

6. Initiative Management
Mengidentifikasi dan mengawasi pengelolaan strategic initiatives.

7. Planning/Budgeting
mengaitkan (link) finance, human resources, teknologi informasi dan marketing dengan strategi.

8. Workforce Alignment
memastikan seluruh tujuan, insentif dan rencana pengembangan karyawan link dengan strategi.

9. Best Practices Sharing
Memfasilitasi proses untuk mengidentifikasi dan share best practices.

Dari sembilan peran tersebut, secara garis besar dapat dikelompokan lagi menjadi :

Core Roles
yaitu Scorecard management, Organization Alignment dan Strategy Reviews.

Desirable/Recommended Roles
yaitu strategic planning, strategy communication dan initiative management.

Core dan desirable/recommended roles, prosesnya dijalankan oleh OSM.

Integrative Roles
yaitu planning/budgeting, workforce alignment dan best practices sharing. Peran ini adalah peran koordinasi dengan bagian lain yang bertanggungjawab. OSM memastikan bahwa proses benar-benar terintegrasi dengan strategi perusahaan. Sebagai contoh misalnya:

Planning/budgeting: proses ini dikoordinasikan dengan Chief Financial Officer (CFO), Human Resources Officer (HRO), Chief Information Officer (CIO, dan Chief Marketing Officer (CMO).

Workforce Alignment: proses ini dikoordinasikan dengan Human Resources Officer (HRO).

Best Practices Sharing: proses ini dikoordinasikan dengan Chief Knowledge Officer (CKO).

  Positioning Office of Strategy Management


Eksekusi strategi membutuhkan perubahan organisasi secara terus menerus dimana hanya CEO lah yang mempunyai wewenang untuk hal ini. Unit organisasi OSM dibuat untuk mengelola eksekusi strategi. Oleh karena itu maka akan lebih efektif bila OSM mempunyai akses langsung kepada CEO.

  

Sumber bacaan:
  1. Creating the Office of Strategy Management (Robert S. Kaplan & David P. Norton)
  2. www.cognos.com

Post tags:

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.